Senin, 16 Mei 2011

Surat Cinta

Boyolali, 6 Desember 2010

Yang selalu di hatiku,
Dewi Anisa Habibah
di Jln. Kenanga 1987
Kab. Semarang

Kasih, izinkanlah mulut ini membiasakan untuk menyebut namamu yang mereliefkan alfabet yang membentuk kata terindah. Suatu kata yang menimbulkan keindahan visual jika kedua mata yang semakin sayu ini melihat. Sebuah kata yang mampu memberikan tetesan pembasuh mataku hingga menghilangkan perih yang terkadang mendera. Menegangkan syaraf-syaraf mataku yang semakin detik berdetak atau jarum jam berputar semakin kabur pandang ini.
Engkaulah sebuah nama yang terdengar lembut oleh daun telingaku hingga mampu menggetarkan dengan halus genderang telinga yang menembus dan memberikan impuls syaraf yang mengantarkan ke otakku hingga mulutku hanya bisa memuji keindahan dirimu. Engkaulah sebuah irama nada dengan intonasi dan lagu yang merdu dan nyaring ketika kedua bibir ini berucap namamu. Engkaulah wanita yang selalu muncul dalam imajiku saat mata ini membuka lebar atau terpejam rapat karena engkau terlalu sempurna untuk menjadi manusia.
Ya habibi, engkaulah penyejuk hatiku yang dahaga akan tetesan air ketulusan cinta yang membuat diri ini kembali percaya pada indah dan nikmatnya cinta sejati. Kepercayaan terhadap sebuah cinta yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Oh adindaku, engkau adalah sebuah nama yang setiap abjad yang merangkai mampu memengaruhi gerak langkah dan ucap tuturku. Nama yang selalu aku ulang dan aku ulang. Sebuah nama yang menjadi dzikir, kuhitung dengan jari hinga jari jemariku berdarah karena sudah tak sanggup lagi untuk menghitung berapa kali aku mengucapkan namamu.
Kau tahu kasih? Kaulah yang saat ini aku ingat. Ingatanku takkan pernah tertidur walau mata ini terpejam tuk mencari kegelapan. Keindahan akan mengingatmu membuat seluruh tubuhku merindukan seluruh jiwa dan ragamu walau bumi ini baru setengah putaran mengelilingi matahari yang selalu duduk di porosnya. Rindu pada wajahmu yang kau balut dengan jilbab muslimah. Rindu pada lakumu dengan menunduk dan juga kata-kata halus yang slelalu kau ucapkan.
Ya habibi, aku menghilang meninggalkan bayanganku di depanmu semata-mata berjuang untuk membentuk diriku yang sebenarnya, agar bisa disebut sebagai sebenarnya manusia. Inilah sebuah tahapan perjuanganku untuk berucap khitbah padamu. Kasih, jika kelak aku sudah menjadi sebenarnya orang, izinkanlah aku memilikimu seutuhnya. Memiliki dirimu seutuhnya adalah sebuah mimpi yang selalu menghiasi setiap malamku. Dengan memiliki dirimu seutuhnya dan kau mengikhlaskan dirimu untukku, aku ingin di setiap mataku membuka sehabis lenyap dari mimpi-mimpi di malam hari, aku ingin yang pertama kulihat adalah wajahmu dengan senyuman indah. Kau tahu kasih? Dengan senyuman itu maka seluruh bara api yang membakar matahari seolah berhijrah dan menggelora di dalam hatiku. Aku ingin juga ketika mata ini sudah mulai lelah untuk melihat dunia dan ingin beristirahat, mata ini sempat melihat senyumanmu. Aku ingin memberikan kecupan di keningmu sebelum mata ini menembus dunia mimpi. Aku juga ingin memeluk erat dirimu karena aku takut bila pagi datang dan ternyata mata ini sudah tak mampu melihat dunia dan raga jiwa ini sudah jenuh dengan dunia, aku telah merasakan indahnya hari-hari bersamamu.
Kasih, walaupun diri ini jauh dari dirimu, tetapi sukma ini selalu mendekati dirimu. Percayalah padaku kasih, karena dengan itu cinta kita akan selalu beriring berdampingan. Melalui sepucuk surat ini kutitipkan rindu untukmu seorang. Aku menyadari bahwa kertas ini tak mampu menampung seluruh rinduku padamu. Tetapi, paling tidak melalui surat ini, sedikit kerinduanku dapat menghampiri dirimu yang jauh dari ragaku. Kasih, melalui surat ini juga aku membuktikan bahwa ingatanku tentangmu tak sedikitpun berkurang, bahkan ingatanku semakin tajam karena setiap malam ingatan ini terasah oleh kerinduan dengan menembus jarak dan waktu. Ya habibi, ingatanku juga lah yang memaksa tanganku untuk mengambil kertas dan memegang bolpoin dan menggoreskan tentangmu.
Begitu banyak yang ingin aku tumpahkan dalam surat ini, tatapi apa daya tinta yang aku pakai sudah tak mampu lagi memberi warna. Kertas yang aku pakai sudah terlalu lusuh untuk aku pakai menuliskan perasaanku padamu. Inilah surat cintaku untukmu sebagai pengurang rasa rindu. Kata terakhir yang ingin aku tuliskan dalam ini surat cinta ini tulus dari dalam lubuk hati, “aku cinta padamu.”

Yang selalu merindumu,


Kab. Semarang, 10 Mei 2011

Tulisan ini dibuat semata-mata hanya ingin memuji seseorang yang selama ini masih menjadi maya di dunia maya. Mohon maaf jika ada kesamaan nama dalam penggunaan nama dalam tulisan ini, karena ini ketidaksengajaan penulis.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Powered by Blogger