Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 September 2013

Manis Pahitnya Cinta

Putih dibalik kegelapan yang terhenti pada satu titik kelam, tersembunyi di bawah tebalnya  kabut senyum kebahagiaan setelah tangis.
Saat itu aku masih duduk di bangku SMP. Saat sedang asik melamun, tiba-tiba...
“Hayoo!!!” teriak Agista menyadarkanku dari lamunan.
Aku tak akan pernah lupa akan hari itu. Saat itu pertama kali sahabatku Agista atau yang biasa dipanggil Ita mengenalkanku dengan kakak sepupunya yang bernama Alvin Raditya Putra. Teman-temannya sering memanggilnya Adit.
“Eh Nan, waktu itu kamu pernah bilang ke aku kan kalau kamu belum punya pacar?” tanyanya.
“Iya, emangnya kenapa?” tanyaku kembali.
“Mau tidak, aku kenalkan dengan kakak sepupuku? Nih fotonya, ya orangnya lumayan lah,” sambungnya.
“Heemm gimana ya? Boleh-boleh, tapi jangan bohong ya,” sahutku dengan tersenyum.
“Iya-iya beres. Mana minta nomormu aja biar nanti aku kasih ke dia,” katanya sambil memaksa.
“Yee maksa!! Nih-nih catat 08564***** .”
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, aku bergegas merapikan buku-bukukku dan bergegas pulang. Selang beberapa jam setelah sampai dirumah, aku masih terus penasaran dengan siapa aku akan dikenalkan oleh Agista. Aku memikirkan hal itu sambil melamun di depan teras rumah. Tiba-tiba lamunanku terpecahkan oleh suara handphoneku yang berdering tepat dipangkuanku.
“Haloo, maaf ini siapa ya?” sapaku. “Haloo, siapa ya? Jangan bercanda deeh, kalau tidak mau bicara aku tutup teleponnya lho,”  kataku dengan suara yang jengkel akibat si penelpon tidak mau berbicara. Akan tetapi, tiba-tiba penelepon itu menjawab.
“Eh...eh, jangan ditutup dong. Hehe, jutek banget sih?” katanya.
“Suruh siapa nggak nyahut? Sorry Anda siapa ya? Dapat nomorku dari mana?” tanyaku sinis seperti biasanya terhadap nomor baru yang sering iseng.
“Salam kenal ya, aku Adit. Tadi aku diberi nomor telepon kamu dari adik sepupuku” jawabnya.
Tiba-tiba aku teringat kejadian di sekolah tadi dan langsung mengetahui siapa dia.
“Oh kamu kakak sepupunya Ita yang tadi di sekolah katanya mau dikenalin ke aku?”
“Iya, boleh kan mengenal kamu lebih dekat?” katanya lagi.
Kami berbincang-bincang lumayan lama melalui telepon, saling mengenal dan hari demi hari semakin akrab dan semakin akrab saja. Namanya Alvin Raditya Putra, dia duduk di bangku SMA. Dari mulai bertemu, date, dan lain-lain sudah kita jalani. Setelah kenal lama, Adit mengajakku dinner di suatu tempat yang indah dan penuh nuansa romantis. Di tengah perbincangan, tanpa sengaja kami saling bertatapan. Kami terhenti sejenak tanpa suara. Karena takut dia curiga dan tahu perasaanku, aku pun melepas tatapanku. Tak lama, dia mengucapkan kata-kata romantis dan memintaku untuk menjadi kekasihnya.
“Sayang, dari hari ke hari aku perhatiin,  kamu tambah cantik saja deh.”
Aku terkejut lataran dia memanggilku dengan sebutan sayang.
“Eh...em, enggak ah biasa aja. Dari dulu ya kaya gini-gini aja, gombal kamu,” sangkalku karena malu.
“Aku serius lagi. Boleh nggak aku ngomong jujur?” katanya sambil menatapku.
“Boleh, ngomong saja,” jawabku.
“Dari pertama kita kenal, kita ketemu, kita jalan bareng, ngobrol-ngobrol dan lain sebagainya, aku ngrasa nyambung banget sama kamu, dan aku ngrasa nyamaan banget saat ada di samping kamu, dan benih cinta itu semakin hari semakin tumbuh dan terus tumbuh. Kamu mau nggak jadi pacarku?” katanya.
Dengan perasaan campur aduk, deg-degan, kaget, senang, dan bingung.
“Em, a-ku, a-aku juga ngrasain hal yang sama seperti yang kamu rasakan. Tapi, apa kamu bisa dan mau menerima aku apa adanya?”
“Aku janji aku nggak bakal ngecewain kamu. Apapun yang akan terjadi kepadamu, insyaallah aku akan terus ada di samping kamu,” jawabnya lagi.
“Ya sudah, aku terima kamu jadi pacarku. Kita jalani saja dulu,” sahutku dengan senyum bahagia.
Saat itu tanggal 25 Januari 2010 tepat pada tanggal itu kami  resmi pacaran, ya seperti layaknya orang pacaran aja. Waktu berlalu, usia pacaranku dan Adit berjalan hampir satu setengah tahun. Kini aku sudah duduk di bangku SMA, Adit lulus SMA, ya dibilang baru awal serius. Aku pun juga sudah mengenal baik keluarganya, terutama ibunya. Aku juga sudah bisa mengubah semua sifat-sifat negatifnya.
Lambat laun, aku merasakan ada yang berubah dari sikap Adit. Karena penasaran, aku datangi rumahnya bersama sahabatku, Ita. Setelah sekitar 26 menit, kami sampai di rumahnya. Bukan Adit yang kami temui, melainkan Ibunya. Kemudian aku ceritakan semua kepada Ibu.
“Nak, kamu yang sabar saat menghadapi sikap Adit,” tanggapan dari Ibu.
“Kenapa Bu, ada apa?”
“Adit sakit keras nak.”
“Kok dia tidak cerita sama saya?”
“Katanya dia tidak mau membuat nak Nanda sedih. Dia sakit gara-gara temannya yang usil, memberinya minuman keras yang seperti air putih,” kata ibu sambil menangis.
“Lalu, sekarang dia di mana Bu?” kataku dengan menangis.
“Dia diajak berobat abah ke Solo nak, tepatnya di Rumah Sakit Yarsis. Ibu disuruh abah untuk di rumah, karena Adit tahu kalau nak Nanda bakalan ke sini,” jelas ibu.
“Bu, mau nggak Ibu besok mengantar Nanda bertemu dengn Adit?” pintaku.
“Iya nak.”
“Ya sudah, Nanda pulang dulu ya Bu, besok Nanda ke sini jam sebelas. Assallamualaikum.”
“Waallaikumsallam. Hati-hati dijalan ya nak”
Setelah itu aku dan Ita pulang ke rumah. Keesokan harinya jam setengah sepuluh aku berangkat menuju rumah Adit seperti perjanjian sebelumnya. Setelah sampai, aku lihat ibu sudah menungguku di depan rumah bersama Abah.
“Nak kita berangkat sama Abah saja ya, naik mobil,” kata ibu.
“Iya Bu.”
Sekitar dua jam tiga puluh menit kami sampai di Rumah Sakit. Sesampainya di kamar tempat Adit dirawat, aku tak kuasa menahan tangis melihat kondisi Adit yang terbaring lemah, aku langsung memeluknya. Aku tunggu dia sampai dia bangun, sampai-sampai aku tertidur. Tiba-tiba aku rasakan ada tangan yang menyentuh tanganku, aku pun terbangun. Aku lihat Adit sudah terbangun dari mimpi indahnya.
“Pesek, kok kamu ada di sini?” tanya Adit.
“Sayang, kamu jahat, kenapa kamu tidak cerita tentang semua ini?” tanyaku dengan penuh kekhawatiran.
“Maaf  ya sayang, aku nggak mau buat kamu sedih. Aku cuma pengen lihat kamu senyum tiap aku lihat kamu,”  jelas Adit.
“Tapi sayang, tetap saja kamu harus cerita, aku khawatir. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Benarkan firasatku kalau ada apa-apa dengan kamu?”
“Udah sayang, aku nggak apa-apa kok. Kata dokter besok sudah boleh pulang.”
“Ya sudah aku di sini sampe besok kamu pulang ya?” jawabku tersenyum dalam tangisan.
“Iya sayang, jangan nangis dong, tambah nggak kelihatan tuh hidung kamu kalau nangis,” canda Adit.
“Iih sayang  jelek.”
Keesokan harinya kami semua berkemas-kemas untuk kembali ke rumah. Sekitar pukul 10.30 WIB kami cek out dari Rumah Sakit dan pukul 13.24 WIB kami sampai rumah, kemudian aku pamit pulang karena esok sudah harus sekolah.
“Adit, Ibu, Abah, Nanda pamit ya, besok Nanda sudah sekolah.”
“Iya nak,” jawab ibu dan abah.
Adit mengantarku sampai depan rumahnya.
“Yakin sayang nggak mau dianter?”  tanya Adit.
“Enggak lah sayang, kan aku udah gede, yang penting pacarku yang paling nyebelin ini sembuh duluu,” kataku sambil mencubit hidungnya.
“Ya udah, sayang hati-hati di jalan ya.”
“Iya sayang. Assallamualaikum.”
“Waallaikumsalam.”
Hari berjalan seperti biasanya, ya namanya pacaran ada saat senang, sedih, tawa, dan tangis. Penyakit Adit sering kali kambuh dan tak jarang dia masuk Rumah Sakit kembali. Aku coba untuk selalu telaten merawat Adit, meski sering juga kami bertengkar. Tetapi, stok sabarku masih banyak kok. Aku yakin senang dan sedih itu satu paket dan selalu datang bersamaan.
Hubungan kami masih berlangsung hingga saat ini.

Thank You For Read My Short Story



Karya: Ananda Eka Wardhani
Baca selengkapnya »

Sabtu, 29 Oktober 2011

Cewek Idola

Aku seorang pelajar SMA Gobel International School Jakarta. Aku biasa di panggil Cantika, aku baru menduduki bangku kelas satu SMA. Aku terkenal sebagai cewek yang cantik, ramah, pandai, bersahabat, dan juga aku menjadi sosok idola entah dari kalangan siswa-siswi maupun dari kalangan guru. Setiap hari aku datang ke sekolah lebih pagi, karena aku tidak ingin kalau terlambat. Datang awal merupakan salah satu kebiasaanku. Kebiasaanku yang lain adalah membaca buku dan menulis puisi. Makannya, aku terpilih menjadi ketua majalah dinding (mading) di sekolah. Selain aku menjadi ketua mading, aku juga menjabat sebagai ketua OSIS.
Suatu hari aku berangkat sekolah terlalu pagi, sampai di sekolah baru ada aku saja. Tak lama kemudian, ada seorang siswa yang datang dan aku belum pernah melihatnya, “Berarti dia anak baru,” bisik hatiku. Jam menunjukan pukul 07.15, bel masuk pun berbunyi. Semua siswa-siswi sudah masuk kelas dan duduk dengan tenang. Tak lama kemudian pak Dariyanto, guru mata pelajaran matematika masuk. Tak seperti biasanya saat pak Dariyanto masuk kelas, biasanya langsung mengasihkan tugas kepada kami, tapi malah pak Dariyanto memberikan pengumuman kalau hari ini ada seorang siswa baru.
“Pagi anak-anak, pagi ini bapak akan mengenalkan seorang siswa baru kepada kalian, silahkan masuk nak,” kata pak Dariyanto.
Tak lama kemudian masuklah seorang cowok yang tadi pagi aku lihat di depan ruang guru. “Hello teman-teman, namaku Steaven Andrea Wijayakusuma, dan aku biasa di panggil Steaven. Aku dari SMA 055 Jakarta Selatan, terima kasih.”
“Ada yang ingin ditanyakan anak-anak?”
“Kamu sudah punya pacar belum?” kata Putri teman sebangku.
“I’m single,” sahutnya.
“Steaven, kamu duduk di belakangnya Cantika.”
“iya, Pak.”
Setelah itu, dia duduk dibangku kosong yang tepat berada dibelakangku. Tiba-tiba dia memegang bahuku sambil ngomong, “Oh, jadi kamu yang bernama Cantika Regina Putri?” katanya sambil tersenyum.
“Iya,” sahutku dan membalas senyumnya.
Akirnya pun pelajaran di mulai sampai pukul 09.25, bel istirahat pun berbunyi. Aku, Putri, Jesicha, dan Nora pergi ke kantin. Di tengah jalan menuju ke kantin, tiba-tiba kami dicegat oleh Steaven. “Eh Cantika, kamu pergi ke kantin dengan aku yuk!!!”
“Aduh aku sudah janji dengan teman-temanku buat pergi ke kantin bareng.”
“Please dong Cantika!!! Orang yang aku kenal di sini cuma kamu.”
Jesicha pun berbicara, “Ya udah Can, kamu pergi saja dengan Steaven, biar kita pergi bertiga.”
“Tapi aku kan sudah janji dengan kalian.”
“Udah Can, kita kan masih bisa pergi bareng kapan-kapan lagi,” sahut Nora.
“Tapi kalian ngak pa-pa??”
“Iya, kami ngak pa-pa kok,” sahut Putri.
“Ya udah kalau begitu aku pergi ke kantin dengan Steaven dulu ya, ntar kita ketemu di ruang mading, ok?”
“Cipzz bozz,” sahut mereka serentak.
Aku pun jalan menuju kantin bersama Steaven. Sesampai di kantin aku langsung memesan makanan. Setelah makanan datang aku langsung memakannya. Setelah selesai makan, Steaven pun mengajakku berbincang-bincang.
“Eh Can, setelah ini kamu mau ke mana?”
“Aku mau ke ruang mading.”
“Aku boleh ikut ngak?”
“Ea, kalau kamu mau ea ngak pa-pa.”
“Aku mau kok, asal sama kamu.”
“La emangnya kalau dengan aku kenapa?”
“Ya..., senang aja kalau sama kamu.”
“Heemzz..”
Setelah itu pun aku langsung pergi ke ruang mading bersama Steaven. Sesampai di sana aku, Putri, Jesicha, dan Nora menyiapkan puisi, kata-kata mutiara, dan gambar untuk di tempel di mading. Eh baru setengah perjalanan, aku di panggil oleh pembina OSIS, kalau sekarang ini juga OSIS ada rapat dan aku harus mengumumkan kepada temen-temenku. Aduh-aduh, padatnya kegiatanku hari ini. Dalam rapat ini aku harus memimpin rapat tersebut, ternyata rapat hari ini membahas kegiatan yang akan dilaksanakan untuk memperingati HUT sekolah yang ke-32. Dalam acara ini akan diadakan pesta dansa, dan setiap siswa-siswi harus membawa pasangan.
 “Aduh-aduh . . .bakal pulang sore hari ini,” keluhku.
Bel pulang pun berbunyi dan rapat pun belum usai. Tak lama kemudian hand phoneku berbunyi, ternyata bunda aku yang menelepon. Waktu menunjukan pukul 17.38, rapat pun selesai dan aku keluar dari ruang OSIS paling akhir. Waktu aku menunggu jemputan, ternyata Steaven menunggu aku di depan gerbang.
“Lo.., kok kamu belum pulang Stev, kamu nunggu siapa???”
“Aku nunggu kamu Can.”
“Ngapain kamu nunggu aku???”
“Aku pengan pulang bareng degan kamu.”
“Weleh-weleh...”
“Kamu mau ngak pulang bareng dengan aku???”
“Aduh..., aku kayaknya dijemput sopir aku.”
“Ah ngak asik ah...,” tak lama kemudian sopir aku telepon, kalau dia ngak bisa jemput karena mobilnya macet.
“Ya udah Can, kamu pulang bareng aku aja ea!!!”
“Ya sudahlah kalu gitu.”
“Beneran Can???”
“He’em, daripada aku pulang sendiri.”
“Ea..., kalau gitu aku ambil mobil aku di parkiran dulu ea!!! Kamu tunggu sini aja.”
“Ok lah kalu begitu.”
Tak lama Steaven sampai di depan gerbang dengan mobil jazz merah yang dia kendarai, lalu dia membukakan pintu untukku. Di perjalanan Steaven mengajakku untuk ngobrol.
“Eh Can, kata teman-teman kamu, kalau kamu lagi di taksir kak Dimas anak kelas 2 IPA ea???”
“Ea gitu...”
“Kamu suka ngak dengan dia???”
“Ea ngak lah...”
“La napa kok ngak?? Dia kan ganteng.”
“Ganteng sich ganteng, tapi dia sudah terkenal playboy dan putri yang pernah jadi korbannya.”
“Owh, la kamu sudah punya pacar??”
“Belum.”
“Ah ngak percaya aku.” 
“Emang bener kok, la kenapa kamu kok ngak percya??”
“La kamu kan cantik, baik, pandai, dan rajin, masak ngak punya pacar.”
“Ah kamu bisa aja.”
“Bener Can, kamu cantik, secantik namamu.”
“Ah gombal.”
“Aku ngak gombal, tapi ini kenyataan.”
“Owh gitu ea . .”
“He’em.”
Tak  sadar, ternyata sudah sampai  di rumahku. Aku pun turun dari mobil. Steaven aku ajak masuk, tapi dia ngak mau soalnya ibunya sudah nugguin dari tadi. Sebelum dia pulang, dia minta no hand phone aku dan aku berikan. Lalu, aku masuk rumah ternyata ayah dan bunda aku sudah nuggu aku di ruang tamu.
“Kamu tadi pulang sama siapa Can???” kata ayahku.
“Tadi Cantika pulang sama temen yah.”
“owah bukan cowok kamu ya Can?”
“Ngak kok Yah. Tadi itu bukan cowok Cantika, kan aku pernah ngomong dengan ayah dan bunda, kalau aku punya cowok akan aku kenalin sama ayah dan bunda.”
“Ea ayah percaya kok sama Cantika . . iya kan bun?”
“Iya... Ya sudah sana kamu mandi dulu, ntar kemaleman kamu sakit.”
“Ea Bunda dan Ayahku tersayang, Cantika masuk ke kamar dulu ya,” sambil kucium pipi ayah dan bundaku.  
Setelah aku selesai mandi, aku pun langsung mengerjakan pekerjaan rumah dan menyelesaikan tugas yang harus di bawa besok. Setelah aku selesai menyelesaikan tugas, aku menyiapkan perlengkapan sekolah yang harus aku bawa besok pagi. Waktu aku mau tidur, aku melihat hand phone aku ada lima belas  sms yang masuk, ternyata sms itu dari Steaven semua. Aku ngak sempat menjawab, soalnya sudah malam dan aku harus tidur.
Keesokan hari, setelah aku sarapan dan aku mau berangkat, saat aku keluar rumah ternyata Steaven sudah menungguku di depan rumahku, “Ngapain kamu pagi-pagi ada di sini?”
“Ya aku mau jemput kamu buat berangkat sekolah.”
“Lho...., aku kan ngak nyuruh kamu buat jemput aku.“
“Emang enggak, ini kan kemauan aku sendiri.”
Tak lama sopir aku datang menghampiriku dan bicara, “Mau berangkat sekarang non??”
“Iya pak, kita berangkat sekarang, soalnya ada laporan yang harus aku kumpulunin pagi ini.”
Lalu aku berangkat dengan sopir aku saat itu juga. Sesampai di sekolah, aku segera ke ruang guru untuk bertemu dengan bu Siska pembina OSIS sekolah untuk memberikan laporan hasil rapat yang kemarin telah terlaksana. “Bu, ini laporan hasil rapat kemarin.”
“Iya Cantika. Nanti sepulang sekolah kita harus mempersiapkan untuk keperluan HUT sekolah, soalnya waktunya begitu singkat.”
“Iya Bu, alat-alatnya juga sudah kami siapkan, tinggal mendekorasi ruangan saja. Untuk tema pesta dansa besok adalah princess.”
“Ibu serahkan semua ini dengan kamu ya Can!!!”
“Iya Bu, aku akan memegang amanat dari Ibu dengan baik. Kalau begitu aku pergi ke kelas dulu, soalnya sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Mari Bu.”
“Iya.”
Sesampai aku di kelas, Nora menghampiriku, “Eh Can, tu Steaven ngambek”
“Lha kenapa kok ngambek??”
“Lha kamu di ajak berangkat bareng, kamu malah berangkat dengan sopir kamu sich, ya Steaven jadi ngambek.”
Lalu aku menghampiri Steaven, “Maafin aku ya Stev, kalau aku sudah membuatmu kecewa, tapi aku ngak bermaksud membuatmu kecewa kepadaku.”
“Kamu ngak salah kok.”
“Lha terus kenapa kok kamu cemberut gitu??”
“Lagi bete aja.”
“Bete kenapa??”
“Tadi malem aku sms ma cewek yang aku suka tapi ngak dibales.”
“Owh . . . ea kamu sms lagi aja!!!”
“heemmzz.”
Jam  menunjukkan pukul 14.16, bel pulang pun berbunyi dan aku bergegas ke aula untuk mempersiapkan untuk acara besok. Saat aku sedang menata ruangan dengan teman-teman, tiba-tiba Steaven datang menghampiriku, mengajak aku untuk pulang bersama. Karena aku harus mempersiapkan untuk acara besok, aku menolak tawaran Steaven dan menyuruhnya untuk pulang terlebih dahulu. Akhirnya persiapan pun selesai pada pukul 20.15, dan aku segera pulang karena hari sudah malam.
Keesokannya aku berangkat terlalu pagi, sampai di sekolah, aku siap-siap untuk membuka acara. Jam menunjukan pukul 07.30 dan acara pun dimulai. Bahagianya diriku telah diberi kesempatan untuk membuka acara tersebut. Sesaat pesta dansa dimulai, tiba-tiba Kak Dimas dan Steaven menghampiriku, mereka mengajakku untuk berdansa, namun aku menolak tawaran mereka, dan aku menyadari kalau ternyata Steaven menyukaiku. Karena Steaven ngungkapin perasaannya pada saat itu juga, namun aku tak bisa membalas perasaannya, karena aku hanya menganggap Steaven sebagai sahabatku saja. Bukan hanya alasan itu saja aku tak bisa membalas perasaannya Steaven, namun aku ingin fokus ke pelajaran dan mencapai prestasi-prestasi yang membanggakan. Dan aku di kasih aplous dari teman-teman dan guru aku, karena aku mempunyai prinsip hidup yang bagus. Steaven pun menerima keputusanku dengan lapang dada, setelah saat itu banyak orang yang mengagumiku dan menjadikan aku sebagai panutan dan idola baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat.

Oleh: Khoriyatun Arofah
Baca selengkapnya »

Selasa, 19 Juli 2011

Perasaan Seorang Sahabat

Beberapa hari terakhir ini aku selalu teringat oleh sahabat kecilku Andre. Entah mengapa, tetapi kadang aku juga jengkel dengannya jika aku ingat masa lalu. Hari ini aku tidak pergi ke sekolah. Tubuhku terasa lemas karena kehujanan kemarin sore sepulang sekolah. Aku merasa istirahat di rumah untuk hari ni merupakan hal yang sangat tepat karena setelah aku ingat-ingat hari ini ada hafalan kosakata bahasa Jepang sedangkan aku sama sekali belum menghafalnya.
Pukul 09.30 WIB HP-ku berdering. Ada sms masuk ternyata dari Luna, sahabat baikku, “Hr ni da kjutan, synx bangt km gx msk.” Sungguh aku penasaran banget. Sebenarnya kejutan apa sih yang dimaksud oleh Luna? Tanpa berpikir panjang aku langsung menjawab sms Luna, “Kejutan pa sih?” Namun Luna tak kunjung juga menjawab sms dariku. Aku sampai jengkel menunggu jawaban lama dari Luna. “Mungkin saja Luna lagi sibuk pelajaran?“ pikirku yang terlintas saat itu. Istirahat di rumah tidak membuat tubuhku membaik tetapi malah semakin lemas.
Aku melamun sebentar memikirkan sahabatku yang sangat aku sayangi, namanya Andre . Andre adalah sahabatku dan Luna. Entah mengapa, kali ini aku selalu memikirkan Andre dan mengharapanya di sampingku. Aku sangat merindukanya, “Apa yang terjadi denganku?” aku bertanya pada diriku. Aku merasa ada yang salah dengan hatiku, “Mengapa rinduku terhadap Andre tidak seperti rindu terhadap seorang sahabat? Nggak mungkin aku punya perasaan lebih kepada Andre. Jika iya, lalu bagaimana dengan sahabatku Luna? Sebenarnya apa sih yang aku pikirkan? Aku nggak mungkin menghianati persahabatan ini. Aku hanyalah siswa SMA kelas X yang periang meskipun kata orang terkadang aku jutek dan galak. Aku bisa menghargai seseorang apalagi sahabatku sendiri,” kalimat pertanyaan itu selalu memenuhi pikiranku saat itu.
Keesokan harinya, aku berangkat sekolah seperti biasa. Tiba-tiba teman satu kelasku, Dani, yang dijuluki kelinci rab berkomentar. “Heh, heh! Tin-tin, napa loe kemaren nggak berangkat? Pake alesan sakit segala. Bilang aja loe pasti nggak pengen belajarkan?”
Aku menoleh dan menjawab, “Oh, iya! Masa sih?” aku yang waktu itu memegang penggaris langsung memukul punggung Dani. “Jangan sekali-kali lagi lo panggil gue ‘Tin-tin’, emang loe pikir tlakson mobil?!! panggil gue Na, lo nggak Tina!”
Sementara Dani yang jail tapi malang itu mengeluh karena kesakitan. Aku cuek lalu pergi menghampiri Lina-Luna yang malah menertawakan saya dan berkata, “Jahat ah, kasian Dani-nya, kan sakit”.
“Biarin aja lagian Dani bawel sih,” jawabku sambil mengomel .
“Sebenarnya kemaren ada kejutan apa sih?” tanyaku kepada Luna.
Luna berusaha menghentikan tawanya lalu Luna menoleh dan berkata, “Nggak kejutan dong kalo kamu tau sekarang, he, he, he.”
“lh kamu nggak asyik Lun,” jawabku sambil cemberut.
Hingga sepulang sekolah, aku masih tidak tahu kejutan apa yang sebenarnya dimaksud oleh Luna. Luna tetap diam, aku disuruh mengikuti Luna karena katanya dia akan mengantarkanku bertemu seseorang, katanya saat di depan kelas.
Aku bertanya ke Luna, “Maksud kamu kejutanya bukan berupa barang, tetapi seseorang?“
“Iya,” Luna mengangguk.
“Andre, sahabat kita udah pulang Na, aku senang banget karena pujaan hatiku ahirnya datang lagi ke Indonesia,” kata Luna. Aku terdiam mendengar Luna berkata seperti itu. “Ups sory maksudku sahabat tersayang kita,” luna berusaha mengelak. Aku tetap diam dan memutuskan tidak menemui Andre. Tetapi tanpa sepengetahuanku Luna jalan berdua dengan Andre. Aku tetap sabar meskipun hati ini sakit. Aku menyesal karena tidak menemui Andre. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat bagiku untuk bertemu langsung dan bertatap muka denganya. Setelah dia meninggalkanku.
Aku harus menata ulang hatiku untuk bertemu dengan Andre. Pikiran pun kembali ke masa silam. Teringat saat pertama kali bertemu Andre, tepatnya saat aku pindah ke SD baru. Kebetulan hari itu aku bertemu dengan Andre yang juga anak baru, kelas dua. Andre yang sifatnya pendiem, ganteng, dan ramah membuat aku ingin berteman denganya. Kami pun berteman hingga akhirnya kami bertemu Luna dan menjadi trio cabai rawit. Ke mana-mana kami selalu bersama hingga muncul perasaan suka terhadap Andre. Waktu itu aku masih belum tahu arti cinta sesungguhnya, so aku biasa-biasa saja.
Waktu terus berjalan, kami pun sudah semakin besar. Perasaanku itu belum hilang. Aku tidak dapat memendamnya sendiri. Saat aku ingin cuhat dengan Luna, dia sudah berkata terlebih dahulu jika dia mempunyai perasaan lebih terhadap Andre. Aku pun terkejut dan tidak jadi melakukan curhat kepada luna tentang perasaanku kepada Andre. Aku gak mau menyakiti sahabatku dengan curhat tentang Andre kepadanya. Tetapi melihat perhatian Luna yang over protektif ke andre, membuatku jeles dan sebal terhadap Luna. Aku pun mencoba menghindar dari mereka, tetapi keputusan itu salah karena hal itu membuatku semakin sakit hati.
Tanpa sepengetahuan Luna, Andre datang ke rumahku dan bertanya, “Ada apa sih Na, kok sikap mu aneh?“
Karena sudah tidak tahan memendam perasaan ini, aku mengatakan isi hatiku terhadap Andre, “Sebenarnya selama ini aku punya perasaan lebih ke kamu”.
Andre pun terdiam sejenak, “Jujur aku juga punya perasaan yang sama denganmu sejak kita selalu bersama dulu.“
Aku pun terkejut. Tetapi tanpa kuduga satu minggu setelah itu Andre pergi ke Australia. Aku pun kecewa terhadapnya.
Sms dari Luna membangunkan lamunanku yang panjang itu, “Aku ma Andre lagi OTW ke rmh u, kamu siap-siap ya, dandan yang cantik ya!”
“Apa?! Memangnya kita mau ke mana?” jawabku. Jantungku berdegup kencang. Aku bingung ,”Apa yang harus aku lakukan? ”tanyaku dalam hati . Dari depan pintu aku menatapnya yang turun dari dalam mobilnya dengan pakaian simple. Perpaduan jeans hitam, kaos putih dan jaket abu-abu itu membuat jantungku semakin berdegup kencang saat menatapnya. Mataku tidak bisa berbohong kalau sebenarnya aku masih ada rasa dengannya. Sambil menunduk aku berkata, “Kamu masih seperti dulu?”
Andre tersenyum dan menjawab, ”Aku nggak berubah dan nggak akan pernah berubah.”
“Kamu juga nggak berubah kan?” aku diam dan menunduk.
Andre berkata, “Mengapa saat kita bertemu lagi, kita serasa orang asing yang tak kenal?”
Aku pun menjawabnya, “Aku takut kalo kamu udah lupa sama aku. Selain itu, aku malu bertemu denganmu setelah kejadian terakhir dua tahun lalu.”
“Kenapa kamu harus malu? Aku pun masih menyimpan perasaan denganmu Tina,” jawab Andre.
Luna mendengar semua perkataanku dengan Andre. Luna kecewa ke aku karena aku tidak jujur. Aku pun menjelaskan ke Luna. Aku tidak jujur karena aku menjaga perasaan Luna.
“Lalu, mengapa kamu memberikan harapan ke aku?” tanya Luna terhadap Andre.
“Aku nggak mau buat kamu kecewa,” jawab Andre.
Luna pun mengerti. Luna memintaku bersatu dengan andre. Tetapi, setelah ku pikir-pikir persahabatan lebih berarti dari pada cinta, karena cinta akan datang dengan sendirinya jika sudah tiba waktunya.


Oleh: Desi Puspitasari
Baca selengkapnya »

Jumat, 10 Juni 2011

Penghuni Rumah Kuno

Hari ini hari pertama aku dan keluargaku menempati rumah baru, yang sebenarnya adalah rumah tua yang mirip seperti bangunan model rumah kuno, bahkan segala segala macam isinya pun merupakan peninggalan zaman kuno. Kami hanya bawa sedikit barang dari tempat tinggal yang dulu karena kata ayah, di rumah yang baru sudah tersedia perabot rumah lengkap. Rumah model kuno ini memiliki halaman yang luas di depan maupun di belakang yang di tumbuhi rumput-rumput lebat. Pohon-pohon berumuran puluhan tahun pun ikut menghiasi rumah kuno ini. Tumbuh menjulang dengan akar-akar besar yang muncul di permukaan tanah. Cat dinding rumah ini sudah mulai mengelupas. Lantainya pun tertutup oleh debu. Benar-benar sudah lama tak terawat.

Semua bermula saat Ayah dipindahtugaskan untuk dinas di kota ini. Terpaksa ibu, aku, dan Rama adik laki-lakiku ikut pindah juga.

Ah….capek rasanya setelah seharian membereskan kamarku. Aku lihat jam di atas meja belajarku. Waktu menunjukan pukul 23.30 WIB. Rumah sudah sepi bahkan bunyi televisi yang beberapa waktu lalu terdengar sekarang tak terdengar lagi. Mungkin semua sudah tidur di kamar masing-masing.

“Kenapa aku tidak bisa tidur juga?“ aku bergumam sendiri sambil membalikan tubuhku menatap jendela. Udara malam semakin dingin. Aku menaikan selimut sampai ke leher. Baru saja mata terpejam tiba-tiba aku terbangun kembali mendengar suara ketukan pintu kamarku. Perlahan aku beranjak dari tempat tidur, berjalan sedikit terhuyung karena belum sepenuhnya tersadar dari kantukku. Sekilas aku melirik jam di meja belajarku yang menunjukkan pukul 00.00WIB.

“Siapa?“ suaraku sedikit serak. Tak ada jawaban. Perlahan kubuka pintu tua itu yang menimbulkan suara gemeretak. Di luar tak ada siapa-siapa .

“Aneh, lalu tadi siapa?“ ketika pintunya aku tutup, tiba-tiba sekelebat bayangan hitam melewati depan pintu kamarku. Aku berjingkat ke luar untuk melihat siapa yang ada di luar.

“Siapa ya? Hei tunggu!” langkahnya malah semakin cepat
“Duh ke mana sih? Kok ngilang?“ tiba-tiba aku mendengar suara pintu dibuka, bayangan tadi masuk ke ruangan itu. Di ujung dapur ada sebuah pintu. Aku belum begitu tau tentang ruangan-ruangan di rumah ini, mungkin itu adalah sebuah gudang.

Perlahan kubuka pintu itu. Ternyata ada sebuah lorong. Di sana gelap, tak ada cahaya. Aku berjalan dengan hati-hati, berusaha supaya tak menabrak sesuatu. Aku meraba-raba dinding, barang kali ada saklar di sekitar sini. Hasilnya nihil, tetapi mataku mulai terbiasa dengan gelap. Walaupun tak sepenuhnya bisa melihat dengan jelas, paling tidak aku bisa melihat keadaan di sekitarku dalam remang-remang.

“Rara…..” aku tersentak ketika mendengar namaku dipanggil dan menyadari itu bukan suara Rama, ayah, ataupun ibu.

“S..sss..ssiapa?“ bulu kudukku mulai berdiri. Udara di sini tiba-tiba menjadi dingin. Kaca-kaca bergetar dan tikut-tikus menjadi ribut bercicit-cicit seolah-olah ada suatu bahaya yang datang.

“Jangan-jangan itu……” aku tak melanjutkan kata-kata ketika kudengar suara berdebum di belakangku.

Aku berbalik menghadap pintu. Hanya berjarak beberapa meter di depanku berdiri sesosok gadis cantik yang sangat familiar. Gadis itu sebaya denganku. Sulit dipercaya, mungkin ini hanya mimpi. Tapi itu benar-benar nyata. Dia benar-benar mirip denganku. Rambut ikalnya, tingginya, bahkan wajahnya. Hanya saja dia terlihat pucat. Dia mengenakan gaun panjang warna putih seperti jubah. Rambut hitam panjang, kulit pucat dipadukan dengan gaun putih memang menyeramkan bila di bayangkan.

Kurasakan keringat dingin bercucuran didahiku. Ya. Aku ketakutan. Aku berusaha untuk berlari, tapi tak bisa. Seperti ada yang mengunci kakiku.

Tiba- tiba kurasakan sentuhan dingin di leherku. Kencang dan semakin kencang. Ada yang mencekikku. Kerongkonganku mulai mengering. Aku tak bisa berteriak.

“T..tt..toolongg!!” suaraku tak cukup didengar oleh orang lain. Tiba-tiba tangan itu membenturkan aku ke tembok. Lagi…lagi…dan lagi…hingga bisa kurasakan darah segar mengalir di keningku. Sementara aku kesakitan, gadis itu tertawa. Tawanya menggelegar memekakkan telinga. Aku mulai kehabisan oksigen. Dan akhirnya aku mencoba untuk memejamkan mata.

Sekarang hening. Tawa itu sudah tak ada. Nafasku pun kembali normal, bahkan aku sudah tidak merasakan sakit lagi. Pelan-pelan aku membuka mata, mengamati sekeliling yang masih gelap. Dia ada di sebelahku.

“Hai, Jangan takut. Aku hanya ingin menjadi teman.”
“Sssiapa kamu?”
“Aku seorang teman, nama kamu Rara kan?”
“Tau dari mana?”
“Ha..ha..ha..tentu aku tahu setiap penghuni rumah ini. Bukankah aku pemilik rumah ini?”
“Tetapi bukankah kata Ayah pemilik rumah ini sudah pindah?”
“Ya, memang. Mereka sudah pindah tetapi aku ditinggal sendiri di sini.”
“Mereka? Ayah dan ibumu?”
“Oh bukan, tapi ibu dan saudara tiriku.”
“Lalu orang tua kandungmu ke mana?”
“Ibuku meninggal ketika aku berumur tujuh tahun, dan lima tahun setelah itu ayah menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. Tentu saja mereka jahat kepadaku. Mereka selalu menyiksaku ketika ayah kerja dan berpura-pura baik ketika ayah di rumah.”
“Lalu di mana ayahmu?”
“Waktu itu ayah memergoki ketika aku disiksa, dan….”
“Dan apa?”
“Dan mereka membunuh ayahku.”
“Oh, kejam sekali. Apa kamu tidak melapor ke polisi?”
“Setelah kematian ayahku mereka mengunciku di sini, tentu saja aku tidak bisa ke mana dan mereka menjual rumah ini.”
“Lalu bagaimana kau bisa keluar? Siapa yang menolongmu?” Dia tak menjawab pertanyaanku. Malah tersenyum lebar menyeringai.
“Ayo ikut aku.”
“Ke mana?”
“Akan aku tunjukkan sesuatu.”

Dia mengajakku menelusuri sepanjang lorong. Aku mengikutinya dari belakang. Tapi anehnya sekarang aku tidak punya rasa takut, malah bersemangat dengan apa yang ditunjukkannya padaku. Dia membawaku ke sebuah ruangan kecil. Di sana ada sebuah perapian. Di sudut ruangan terdapat banyak tumpukan kardus bekas. Dan di pojok sana ada sebuah kursi goyang. Dia menunjukkan lukisan-lukisan yang terpajang di dindng, memperlihatkan foto ayah dan ibu kandungnya.

“Silahkan, duduklah!” dia mempersilahkanku duduk di samping kursi goyangnya dan aku merasa nyaman dengan keramahannya.
“Terima kasih”
“Ha..ha..ha..” baru saja aku berpikir dia orang yang baik, dia malah kembali tertawa seperti waktu di lorong tadi. Aku kembali ketakutan.
“Apanya yang lucu?” aku bertanya, berusaha bersikap polos dan tidak memperlihatkan kegugupanku.
“Di tempat ini aku mati.”
“Mm…m..maksudnya?”

Dia mengalihkan pandangan ke sudut ruangan dan aku mengukuti arah matanya. Astaga itu adalah tulang belulang manusia dan ada sebuah boneka di sampingnya.

“ Aaa…apa itu?”
Dia melirikku dan menatapku dengan tatapan ingin membunuh. Aku tak berani untuk melihat wajahnya. Maka kulihat saja tulang-tulang itu.
“Itu aku, Rara. Mereka mengurungku sampai mati.”
“Kamu?”
“Ya, aku memang hantu. Dan sekarang aku tak sendiri lagi. Aku sudah mendapatkanmu teman. Tinggalah bersamaku di sini.”
“Enggak, aku mau pergi. Aku akan minta ayah untuk pergi dari rumah ini malam ini juga.”
“Ha..ha..ha..”
Dia kembali tertawa, dan membuat kaca bergetar. Aku benar-benar ketakutan. Aku ingin berdiri tapi tak bisa. Tiba-tiba sekujur tubuhku menjadi kaku. Aku tidak bisa apa-apa, kucoba untuk membaca doa sebisaku.

Oh Tuhan dia berubah menjadi hantu, seperti monster. Dia menyeramkan. Dia tak lagi terlihat cantik seperti tadi. Darah-darah mulai bercucuran dari mata, hidung, dan telinganya. Kulitnya mengelupas bau busuk pun menyengat. Tawanya semakin menggelegar. Aku menjerit.

“ Tidaaaaaaaaaaaaak!!!”

Tubuhku mulai meregang. Yah…sekarang aku bisa lari. Aku tak buang-buang waktu berusaha lari sekencang mungkin. Tawanya masih terdengar di lorong. Telingaku sakit berdenging, pintu keluar sudah terlihat. Aku hanya tinggal lari beberapa langkah dan aku akan selamat. Ya…setidaknya itu harapanku.

Aku meraskan tubuhku berguncang ketika akhirnya sampai di pintu. Kukunci pintu itu rapat-rapat. Aku merasakan lega yang sangat dahsyat. Jantungku masih terpacu sangat cepat dan nafasku tersengal-sengal.

“Pokoknya aku harus meminta ayah untuk pindah dari rumah ini, ya, hari ini juga harus pindah,” aku berjalan terhuyung menuju kamar, dan baru aku sadari bahwa hari sudah pagi. Bisa aku rasakan sinar matahari yang masuk dari jendela yang menghangatkan tubuhku.

“Raraaa!” tiba-tiba ibu berteriak histeris. Mungkin ibu panik karena tak menemukanku ada di kamar.
“Iya bu,” aku berlari-lari kecil menuju kamar. Kulihat ayah dan Rama juga ada di kamarku
“Pagi bu, selamat pagi. Bu, Ayah, Rama maaf semalam aku pergi ke gudang dan tidak bilang.”
“Rara, kenapa kamu tinggalin ibu nak?”
“Aku sudah kembali kok Bu.” Aku berteriak. Tetapi mereka tetap saja menangis.
“Apa mungkin tidak dengar suaraku ya?”

Ketika aku masuk kamar. Aku melihat ayah dan Rama menangis terisak-isak sambil berpelukan di samping almari bajuku.

“Ayah? Rama? Aku sudah pulang. Udah dong nangisnya,” tetapi mereka tak melihat sedikit pun ke arahku, malah melihat ke arah tempat tidurku.
“Kalian kenapa sih? Nangisin apa? “ aku mulai sebal.
Aku mengikuti pandangan ayah dan Rama. Aku terpekik ketika melihat ibu menangis tersedu mencoba untuk membangunkanku yang terbaring kaku di atas tempat tidur.
Aku mendekati Ibu. “Oh..ngak mungkin. Itu bukan aku. Aku masih hidup. Ibu..Ibu bisa denger aku kan? Aku masih hidup Bu. Itu bukan aku!!”

Aku mulai menitikan air mata, belum percya bahwa itu adalah mayatku. Aku bisa melihat dengan jelas mayat itu sudah kaku, dingin, pucat, dan terdapat luka di dahi.

“Kamu memang sudah mati Rara. Terima sajalah. Sekarang kamu jadi temanku di sini.”
“Sisi?”
“Ha..ha..ha..gak usah cengeng.”
“Aku belum mati!”
“Inget ngak waktu di lorong? Waktu aku mencekik dan membenturkanmu ke tembok? Saat itu juga kamu langsung mati dan ayah kamu menemukan mayatmu ketika mau mengambil sekop dan menggotongmu ke sini. Ha..ha..ha..”
“Jadi aku benar-benar sudah mati?” Rumah baru sekaligus menjadi tempat terakhirku hidup bersama ayah, ibu dan Rama.

Rumah yang penuh kepalsuan mencari nyawa untuk dijadikan teman. Tetapi kenapa harus Aku. Kenapa? Rumah ini munafik..terlihat anggun tetapi penuh dendam.



***

Sejak keluargaku pergi dari rumah ini, tak ada lagi yang datang ke mari. Rumah ini kembali sepi. Hanya ada aku dan Sisi yang menjaga dan merawat rumah ini agar ada yang mau datang lagi. Karena kami kesepian, kami ingin mencari teman. Terutama aku yang menjadi penghuni baru rumah kuno ini.



Oleh : Siti Rahmawati
Baca selengkapnya »

Rabu, 18 Mei 2011

Berjuang Demi Hidup

Aku bertemu dia di terminal Bawen ketika aku akan mudik ke Solo. Aku bertemu dengannya ketika aku dan kedua orang tuaku menuggu bus untuk menuju ke Solo. Dia mengghampiri tempat kami menuggu bus di peron. Dia berjalan sambil membawa sebuah alat musik yang berbentuk menyerupai gitar tapi berukuran kecil, orang menyebutnya Kentrung.
Setelah dia sampai di tempat kami menuggu bus di peron, dia langsung memainkan gitar kecilnya dan memainkan sebuah lagu. Dia adalah seorang pengamen cilik. Dia bernyanyi di depan setiap banyak orang dan di warung atau toko di sekitar teminal. Dia bernyanyi dengan suara merdunya dan keahlian memainkan gitarnya. Semua itu dilakukannya hanya demi uang.
Sesudah ia selesai menyanyikan lagu aku menyuruh dia untuk duduk di sampingku, sambil memberi uang, aku mengajak dia mengobrol.
“Hai aku Andy, siapa namamu?” sapaku padanya.
“Namaku, Doni,” jawab pengamen cilik itu.
“Di mana rumahmu, dan kenapa kamu bekerja menjadi seorang pengamen ?” aku bertanya lagi.
Dia terdiam sejenak lalu menjawab, “Rumahku di dekat terminal ini dan aku bekerja menjadi pengamen untuk mencari uang dan membantu orang tua.”
“Apakah ayahmu tidak bekerja?”
“Sebenarnya ayahku sudah meninggal sejak kecil,” jawabnya.
“Ups, maaf. Aku turut berduka cita atas kepergian ayahmu,” jawabku lagi.
Kemudian aku bertanya lagi, “Apakah kamu tidak sekolah?”
Dia menjawab, “Ya, aku tidak bersekolah sejak kecil, karena tidak ada dana untuk biaya membeli buku, alat sekolah, dan untuk membeli seragam.”
Kami berbincang- bincang cukup lama. Tidak lama kemudian bus yang akan kami naiki telah datang. Lalu aku dan kedua orang tuaku berjalan menaiki bus dan ia kembali melanjukan pekerjaannya. Aku berharap suatu hari nanti aku bisa bertemu dengan Doni. Mungkin saat aku pulang mudik aku akan bertemu dengannya.
Aku yakin pasti ibunnya senang dan bangga memiliki anak seperti Doni. Anak yang mau bekerja membantu orang tuanya. Walaupun ia tidak bersekolah karena tidak ada biaya untuk sekolah, tetapi ia tetap bersemangat dan tak pernah putus asa. Pekerjaanya mengamen di terminal banyak resiko, walaupun begitu ia mengambill resiko keselamatan dirinya.
Contoh beberapa resiko dari pekerjaannya adalah dia bisa diganggu oleh preman di terminal itu. Selain diganggu preman, resiko lain dari pekerjaannya adalah tertangkap polisi. Saat kami berbincang tadi, aku sempat bertanya padanya, apa kamu tidak pernah diganggu, atau tertangkap oleh razia polisi. Dia menjawab bahwa ia pernah diganggu preman, tetapi ia masih saja semangat untuk tetap bekerja demi membantu orang tuanya .
Dia berkerja untuk membantu orang tunya mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Selain itu ia juga berkerja untuk membantu membiayai sekolah adik-adiknya. Ia adalah peran menggantikan ayahnya yang telah meniggal dunia. Dia bekerja mencari uang untuk kelangsungan hidup keluarganya. Ia bekerja mencari nafkah layak seorang ayah .
Akupun bangga dan salut padanya, ia mau mengamen ditengah panasnya sinar matahari. Ia adalah seorang yang bersifat pejuang keras dan baik hati. Dia rela tidak bersekolah demi adik-adiknya yang lebih membutuhkan pendidikan dari pada dirinya, itu adalah pendapatnya. Selain ia rela tidak bersekolah ia juga tidak punya waktu bermain dangan teman-temannya. Suatu hari nanti aku akan meniru prinsipnya yaitu terus berjuang dan tak pernah putus asa, berjuang hidup demi keluarganya.


Oleh: Rani Hidayat
Baca selengkapnya »

Jumat, 15 April 2011

Cinta Tak Harus Memiliki

Cinta memang tak selamanya bisa indah
Cinta juga bisa berubah menjadi sakit
Begitu yang kurasakan kini perih hatiku tinggal kehancuran
Tak pernah terbayangkan dan tak pernah terpikirkan
Cintaku dan cintamu akan berpisah
Namun harus kurelakan itu untuk hidupmu agar lebih baik
Maafkan aku setulus hatimu kepergian diriku itu bikan keinginanku
Terima saja dengan pilihan yang lain dari orang tuamu
Jangan bersedih dengan keadaan ini
Jika kamu menangis aku juga ikut menangis
Terima saja semua ini kulakukan untukmu


Lagu ST12 Cinta Tak Harus Memiliki memang cocok banget di kehidupan nyata, tetapi bagi yang merasakannya. Seperti kehidupan seorang perempuan remaja bernama Nisa, dengan seorang laki-laki remaja bernama Marthen.
Suatu hari nisa bertemu dengan seorang laki-laki yang cuek, jutek, pelit banget kalau ngomong, dan misterius. Laki-laki itu bernama Marthen, ia terkenal sebagai laki-laki yang sering gonta-ganti pacar istilah jaman sekarang yaitu playboy. Nisa tidak menyukai laki-laki yang playboy, tetapi entah mengapa pertama bertemu Marthen, Nisa merasakan ada yang aneh pada dirinya, ia menginginkan Marthen selalu didekatnya.
Karena penasaran dengan laki-laki misterius itu, Nisa mencoba mencari tau tentang kehidupannya. Lama-kelamaan Nisa dapat berkenalan dengannya dan mendekatinya. Kini mereka semakin akrab. Nisa menaruh hati pada Marthen begitu sebaliknya Marthen juga merasakan hal yang sama. Seiring berjalannya waktu Nisa dapat menjalin hubungan khusus dengan Marthen. Pertama kali menjalani hubungan mereka baik-baik saja, tetapi lama-kelamaan perjalanan cinta mereka tidaklah lancar karena, orang tua masing-masing mengetahui hubungan mereka dan seperti disinetron-sinetron. Hubungan mereka tidak direstui karena perbedaan agama, tetapi mareka nekat tetap manjalani hubungannya sampai sekarang. Mereka pun harus menaggung resikonya yaitu manjalani hubungan dengan cara diam-diam atau backstreet.
Tetapi apakah menjalani hubungan backstreet menguntungkan??? Tidak!!! Menjalani hubungan diam-diam merugikan. Keruginnya:mereka tidak bisa leluasa bertemu jika ingin pergi bersama mereka harus berbohong dengan orang tuanya jika tidak mana mungkin mereka diizinkan keluar padahal semua tahu berbohong itu dosa apalagi membohongi orang tua tapi mau bagaimana lagi itu cara satu-satunya agar mereka dapat melepas rasa kangen.
Setiap hari Nisa selalu berdoa kepada tuhan agar hubungannya dengan Marthen direstui, tetapi Tuhan berkehendak lain. Sebenarnya Nisa sudah tidak kuat lagi menjalani hubungannya diam-diam. Dia selalu bertanya kepada Marthen, “Apakah kamu kuat dan tidak bosan menjalani hubungan seperti ini?”
Marthen menjawab, “Tidak apa-apa aku akan bersabar karena aku sayang banget sama kamu.” Selalu itu jawaban yang diberikan Marthen, Nisa juga tidak tega memutuskan hubungannya karena dia juga merasakan hal yang sama.
Karena sudah beberapa hari ini Marthen tidak bertemu Nisa, Marthen ingin melepas rasa kangennya pada Nisa. Marthen pun mengajak Nisa pergi untuk bertemu. Marthen berpikiran kalau kali ini pertemuannya akan lancar, tetepi pertemuan mereka tidak selancar yang Marthen kira. Ternyata ada yang menghambatnya. Orang tua Nisa mengetahui pertemuan mereka. Seperti sebelum-sebelumnya pada saat mereka ingin bertemu orang tua Nisa selalu mengetahuinya. Entah darimana mereka tahu, akibatnya Nisa selalu kena semprot orang tuanya. Marthen yang mengetahuinya selalu meminta maaf karena mengajaknya pergi.
Hari itu juga kesabaran orang tua Nisa sudah habis , karena Nisa selalu berjanji tidak akan menemui Marthen lagi, tapi kenyataannya Nisa selalu melanggarnya. Orang tua Nisa memutuskan akan memindahkan sekolah Nisa agar bisa menjauh dari Marthen. Nisa akan di pindah ke Jawa Timur. Dia akan bertempat tinggal dan bersekolah di sana sampai Nisa lulus. Nisa menangis karena ke pindahannya, ia harus meninggalkan teman-temannya dan Marthen. Tetapi apa boleh buat, keputusan orang tuanya sudah bulat, tidak ada satu orang pun yang dapat mengubahnya. Jika Nisa tidak menuruti kemauan orang tuanya, Nisa akan dihentikan sekolahnya dan orang tua Nisa tidak mau lagi melihat muka Nisa berada di rumah. Itu artinya, Nisa harus angkat kaki dari rumah. Kali ini Nisa menuruti kemauan orang tuanya karena, ia tidak mau kalau putus sekolah.
Nisa pun memberitahu hal buruk ini kepada Marthen. Dia berpikiran akan memutuskan hubungannya dengan Marthen karena ragu tidak dapat menjalani hubungan jarak jauh atau long distance. Tetapi apa jawaban Marthen, ia tetap tidak mau putus dengn Nisa dia akan menoba kuat dan setia walaupun menjalani hubungannya dengan longdistance. Marthen percaya kalau nisa tidak jadi pindah karena, dia beranggapan itu hanya gertakan orang tuanya agar Nisa dapat memutuskan hubungannya dengan Marthen. Marthen percaya Nisa akan jadi miliknya untuk selamanya, ia juga berjanji akan selalu mendampingi Nisa sampai menutup mata. Nisa terharu ia tidak jadi memutuskan hubungannya dengan Marthen .
Tetapi, anggapan Marthen salah besar hari ini tepat Nisa berulang tahun, ia harus berangkat ke Jawa Timur. Ia akan meninggalkan Marthen, sebelum Nisa pergi, Nisa memohon kepada orang tuanya agar diijinkan bertemu Marthen untuk terakhir kalinya, tanpa berpikir panjang orang tuanya mengizinkannya.
Nisa pergi ke rumah Marthen untuk menemuinya. Di sana Nisa hanya ingin pamit dan meminta pelukan terakhir. Marthen pun menurutinya, setelah itu Nisa berpamitan. Ketika ingin pergi, Marthen menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dengan gitarny. Nisa kaget padahal Nisa tidak pernah memberitahu kapan ia ulang tahun. Tiba-tiba Marthen memberinya kado, sesuatu yang paling Nisa sukai yaitu boneka. Dia juga mencium kening Nisa. Nisa senang sekali dan ia berjanji akan menjaga boneka pemberiannya.
Dua tahun sudah nisa bersekolah dan bertempat tinggal di Jawa Timur. Kini dia sudah lulus sekolah dia pun pulang ke kampung halamannya. Ingin rasanya cepat-cepat bertemu teman-teman dan pujaan hatinya Marthen. Ketika sampai rumah Nisa mendapat kabar buruk. Ia mendengar kalau hari ini Marthen akan menikah. Ia akan menikahi perempuan pilihan orang tuanya. Nisa pun shook. Kenapa Marthen setega itu pada Nisa. Dia berjanji akan mendampingi Nisa selamanya, tetapi apa buktinya ia malah menikah ketika Nisa pulang.
Nisa pergi menemui Marthen, ia marah-marah sambil menangis kenapa janjinya dulu tidak ditepati. Marthen mencoba menjelaskannya, tetapi Nisa tidak butuh penjelasannya karena Marthen sudah membohongi Nisa. Selama dua tahun Nisa setia menjaga hatinya untuk Marthen, tetapi balasannya Marthen menghianati Nisa. Ia sangat sakit hati dan berpikir kenapa dulu begitu percaya dengan omongan Marthen. Sekali playboy tetap playboy. Dia pun pergi meninggalkan Marthen.
Sebenarnya menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya itu bukan kemauannya. Tetapi, Marthen takut ketika Nisa kembali ia sudah melupakannya. Marthen pun masih menjaga hatinya untuk Nisa, tetapi apa yang bisa dilakukan Marthen agar Nisa dapat mempercayainya lagi. Tidak mungkin Marthen membatalkan pernikahan tersebut. Kini Nisa juga sudah membencinya. Marthen berpikir, mungkin ini saatnya ia melupakan Nisa untuk selama-lamanya. Marthen juga berdoa agar Nisa mendapat pendamping yang lebih baik darinya.
Berakhirlah perjalanan cinta mereka.
Turutilah apa yang dikatakan orang tua, karena sebaik-baiknya orang lain, perkataan orang tualah yang paling baik.



Oleh: Dian Choerun N
Baca selengkapnya »

Reihan Juga Cinta Elsa

Pagi yang cerah, burung-burung berkicauan menandakan kecerahan hari ini. Aku pun siap berangkat sekolah. Saat aku tiba di gerbang sekolah, ada seorang laki-laki mendatangiku, yang langsung menanyakan namaku, ”Hai, siapa namamu?” kata seorang laki-laki itu yang ternyata kusadari adalah kakak kelasku yang aku kagumi selama ini.
Aku hanya tertegun melihatnya tanpa menghiraukan pertanyaan yang di tujukan padaku. “Hai, kok malah melamun?” katanya lagi sambil tersenyum melihatku yang mungkin berpikir tentangku kenapa aku malah melamun ketika di tanya namaku. “Namaku Icha,” sambil kuberikan tanganku untuk bersalaman dengannya. Kejadian ini membuat hatiku terasa tak karuan.
Sesampainya aku di kelas aku masih memikirkan kenapa kak Bayu, orang yang sangat populer di sekolahku mau mengajakku berkenalan. Sangking populernya banyak cewek yang mengejar-ngejar dia. Rambutnya yang hitam rapi dan wajahnya yang berlesung pipit membuatnya lebih tampak manis. Yang terbaik darinya adalah senyuman dan kebaikannya yang membuat cewek-cewek naksir berat dengannya. Banyak cewek-cewek yang ngefans banget sama dia. Aku pun demikian. Selain itu, banyak juga cewek yang nekat nembak dia, tapi nggak ada satupun yang di terimanya.
”Wooiii..!!” salah seorang sahabatku mengagetkanku. ”Elsa….,” sambil aku pukul kepalanya karena mengagetkanku. ”Kamu sih dari tadi aku lihat melamun terus, ngelamunin siapa sih?” kata Elsa. ”Ohhh, aku tau, pasti kak Bayu,” katanya.
Aku pun dengan cepat menyambar pertanyaannya, “Eh, sok tau kamu.”
“Kalo nggak siapa lagi, masak ngelamunin aku. Kamu nggak biasanya melamun kayak gitu, kalo nggak melamunin mas ganteng.”
“Kamu bener,” tiba-tiba datang dari belakang suara seorang yang aku kenal. “Tadi pagi aku lihat mas Bayu ngomong sama kamu, ngomong apa?” katanya lagi.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan dari Cindy, guru kimia yang super killer itu langsung nongol. Males banget rasanya ndengerin ocehan guru itu.
Waktu cepat berlalu. “Teng..teng..teng…” bunyi bel pulang sekolah, anak-anak keluar dari kelas. Aku dan sahabatku pergi ke kantin, dan Cindy pergi ke toilet yang sudah kebelet pipis.
“Gimana tadi lanjutannya, mas Bayu ngomong apa ma kamu?” tiba-tiba Cindy nyerobot datang dan ngomong.
“Uhuk..uhuk..uhuk…,” aku tersedak ketika Cindy tiba-tiba datang. “Nggak kok, mas Bayu Cuma tanya namaku aja, nggak tau buat apa.”
“Eh kemarin aku lihat mas Bayu sama Reihan,“ kata Elsa.
”Ngapain mas Bayu sama Reihan,” kataku penasaran .
“Mereka kan kakak adik,” kata Cindy menanggapi omongan dari Elsa.
“Apa?” Kataku dan Elsa hampir bebarengan.
“Kalian itu kenapa sih, kok kaget gitu?” Cindy menanggapi kekegetan sahabatnya.Cindy memang nggak tau kalau dulu waktu SMP Elsa dan Hafiza ngrebutin Reihan. Hafiza adalah salah seorang teman SMP-ku dan Elsa. Sedangkan Cindy emang sahabatku, tapi kami bersahabat ketika di SMA ini. Sedangkan aku dan Elsa sudah berteman sejak SMP. Nggak tau kok sekarang jadi kayak tiga serangkai. Di situ kami di buat kebingungan apa benar Reihan adalah adik kak Bayu. Tapi kenapa kak Bayu kok tanya namaku bukan Elsa dan kak Bayu bisa buat mata-mata untuk mengintai Elsa.
Tiba-tiba kak Bayu datang dan menghampiri kami, ternyata dia sudah dari tadi ada di pojok sudut tempat duduk dan mungkin dia tahu tantang percakapan kami. “Kalian tidak usah bingung biar aku jelasin. Aku memang kakaknya Reihan. Aku di suruh Reihan buat minta maaf sama Elsa kalau dia masih merasa bersalah banget, karena dia udah nyakitin perasaan kamu dan Hafiza, karena tidak bisa terima cinta kalian berdua dan soal kamu Icha, tadi pagi aku tanya nama kamu, karena aku kira Elsa adalah kamu. Jadi soory ya,” kata mas Bayu menjelaskan permasalahan yang dari tadi kami pertanyakan.
“Jadi gitu, Reihan Cuma mau minta maaf, tapi kok dia nggak ngomong sendiri aja, malah nyuruh kak Bayu buat minta maaf,” kata Cindy sok tau.
”Owhh itu, Reihan juga maunya minta maaf sendiri, tapi dia lagi sakit,” kata mas Bayu.
“Reihan bisa sakit emangnya kenapa?” kata Elsa cemas.
“Dia Kecelakaan, waktu mau pergi ke rumah kamu, minggu lalu,” kata mas Bayu.
“Jadi, gara-gara aku Reihan kecelakaan, saat mau kerumahku?” kata Elsa.
“Jangan gitu donk, kamu nggak usah nyalahin diri kamu sendiri,” kata Icha.
“Ya, bener kata Icha, itu kan kecelakaan,” kata kak Bayu menjelaskan.
“Terus sekarang gimana keadaan Reihan ?” kata Elsa cemas.
“Dia udah agak baikan, Cuma perlu sedikit istirahat aja,” kata kak Bayu.
“Mendingan kita besok jengukin Reihan aja, gimana?” Cindy langsung nyerobot ngomong.
“Bener, kata Cindy, kita jengukkin dia aja, biar Elsa nggak cemas lagi,” kataku nyambung omongannya Cindy.
Di rumah Reihan.
“Rei, cepat turun, ada temen-temen kamu,” kak Bayu memanggil adiknya.
Dengan langkah perlahan, wajah yang sedikit pucat, Reihan mendatangi kami di ruang tamu. “Elsa, Icha, Cindy, ternyata kalian,” Reihan kaget ternyata kami yang datang. “Kok kalian tahu rumahku?” katanya lagi.
“Ohhh itu, kami tahu dari kak Bayu, dia yang nganterin kami,”Kataku.
“Elsa, aku minta maaf sama kamu, soal kamu dan Hafiza,” kata Reihan.
“Udahlah, aku sudah maafin kamu kok, itu kan hak kamu buat nerima cinta aku atau nggak, yang penting kan sekarang kita masih bisa berteman”
“Ya donk, yang penting persahabatan, Oke,” kata Cindy nyambung aja.
“Aku sebenernya suka sama kamu Elsa, tapi aku nggak mungkin milih kamu, kan kamu dan Hafiza sahabatan, jadi nggak mungkin aku milih kamu,” kata Reihan menyatakan perasaannya kalau dia juga suka sama Elsa.
Dengan perasaan yang begitu lega, aku, Elsa, Cindy pulang ke rumah dan sepakat untuk tidak membahas masalah ini, agar persahabatan kami tetap terjaga dan tidak rusak hanya karena masalah cowok.
Kini Elsa tahu kalau Reihan juga suka sama dia.


Karya: Al Husna Fadhila
Baca selengkapnya »

 
Powered by Blogger